Tren Bahasa Gen Z 2026: English Slang & Istilah Mandarin Pop Culture yang Lagi Tren
Bahasa terus berkembang mengikuti zaman, hingga awal tahun 2026 ini, generasi muda tidak hanya menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cara mengekspresikan identitas, selera, dan pengaruh budaya global. Media sosial, film, musik, dan platform digital membuat Gen Z terbiasa mendengar lebih dari satu bahasa setiap hari. Akibatnya, muncul kebiasaan mencampur istilah English slang dan ungkapan dari budaya populer Mandarin dalam percakapan santai.
English Slang yang Makin Sering Dipakai
English slang Gen Z cenderung singkat, ekspresif, dan penuh nuansa emosi. Banyak istilah muncul dari TikTok, film, streaming, dan komunitas online. Meskipun bersifat informal, slang membantu pelajar memahami konteks budaya, tone percakapan, dan cara komunikasi anak muda di dunia internasional. Namun penting juga untuk tahu kapan slang digunakan, karena konteks akademik dan profesional tetap membutuhkan bahasa formal.
1. Slay
Berarti melakukan sesuatu dengan sangat baik dan penuh percaya diri.
She slayed her presentation today.
2. Mid
Digunakan untuk menyebut sesuatu yang biasa saja.
The movie was kind of mid.
3. It’s giving…
Untuk menggambarkan kesan atau vibes tertentu.
It’s giving main character energy.
4. Delulu
Bercanda tentang harapan atau khayalan yang tidak realistis.
Let me be delulu for a moment.
5. Lowkey
Menyatakan perasaan atau pendapat secara halus.
I lowkey like this song.
6. Ate
Pujian bahwa seseorang tampil sangat keren.
She ate that performance.
7. That’s tough
Dipakai untuk menunjukkan simpati atau reaksi saat sesuatu terdengar sulit/kurang menyenangkan (kadang juga bernada santai).
You have an exam on Sunday? That’s tough.
Istilah Mandarin yang Populer lewat Hiburan & Media Sosial
Selain English, Gen Z juga semakin akrab dengan istilah Mandarin karena pengaruh drama China, lagu Mandopop, variety show, dan konten video pendek. Kata-katanya sering muncul di dialog atau komentar online, sehingga terasa akrab walau belum dipelajari secara formal. Ini menunjukkan bagaimana paparan budaya bisa membantu proses pengenalan bahasa secara alami.
1. Gēge (哥哥 – gēge)
“Kakak laki-laki”, tapi di pop culture dipakai untuk cowok yang charming.
那个哥哥很帅 (Nàge gēge hěn shuài.) — Kakak itu ganteng.
2. YYDS (永远的神 – yǒngyuǎn de shén)
“Dewa selamanya”, untuk memuji sesuatu yang dianggap terbaik.
这首歌YYDS! (Zhè shǒu gē YYDS!) — Lagu ini terbaik banget!
3. Xīn sāi (心塞 – xīn sāi)
Secara harfiah “hati terasa tersumbat”, dipakai saat merasa sesak, kesal, atau frustrasi.
今天事情太多,我有点心塞。(Jīntiān shìqíng tài duō, wǒ yǒudiǎn xīn sāi.) — Hari ini banyak banget urusan, aku agak stres.
4. Kě’ài (可爱 – kě’ài)
Berarti lucu atau imut.
这个小狗很可爱。(Zhège xiǎo gǒu hěn kě’ài.) — Anak anjing ini lucu.
5. Chī tǔ (吃土 – chī tǔ)
)“Makan tanah”, istilah bercanda saat tidak punya uang.
这个月只能吃土了。(Zhège yuè zhǐnéng chī tǔ le.) — Bulan ini bokek.
6. Xì jīng (戏精 – xì jīng)
“Drama queen/king”, untuk orang yang dramatis.
他真是戏精。(Tā zhēn shì xì jīng.) — Dia drama banget.
7. Hǎo kàn (好看 – hǎo kàn)
Digunakan untuk mengatakan sesuatu bagus dilihat.
这个电影很好看。(Zhège diànyǐng hěn hǎokàn.) — Film ini bagus.
Kenapa Gen Z Sering Campur Bahasa?
Gen Z tumbuh di lingkungan digital global. Konten dari berbagai negara dikonsumsi setiap hari, jadi berpindah bahasa terasa natural. Kadang satu bahasa terasa lebih pas untuk mengekspresikan emosi tertentu.
Contoh kalimat yang terdengar natural:
“Penjelasannya clear banget, videonya juga hǎo kàn.”
Ini menunjukkan bagaimana generasi muda belajar bahasa secara alami dari lingkungan digital global. Bukan hanya memahami arti kata, tapi juga tone, emosi, dan konteks penggunaannya.
Dari Tren ke Kemampuan Nyata
Mengikuti tren bahasa itu seru, tetapi penting untuk mampu menggunakan bahasa tersebut secara tepat dalam berbagai situasi baik akademik, sosial, maupun profesional.
Di OAKLEARN Center, pembelajaran English dan Mandarin dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa menggunakan bahasa dalam konteks nyata sesuai usia dan level mereka.
Karena pada akhirnya, bahasa bukan hanya tren, tapi keterampilan jangka panjang untuk masa depan.