Ramadan Around the World: Language & Cultures
Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menjalankan puasa di bulan Ramadan, bulan suci yang penuh refleksi, disiplin diri, dan kebersamaan. Meski esensinya sama, cara menjalankan Ramadan sangat bervariasi di berbagai negara, mulai dari tradisi makanan, kegiatan sosial, hingga bahasa yang digunakan untuk menggambarkan pengalaman puasa.
Menariknya, perbedaan budaya ini juga menjadi kesempatan untuk belajar bahasa. Dengan mengenal istilah-istilah lokal, kosakata bahasa Inggris dan Mandarin, kita bisa memahami lebih dalam bagaimana orang-orang di seluruh dunia menjalankan puasa di bulan suci ini. Bagi pelajar Inggris dan Mandarin, Ramadan bisa menjadi momen belajar bahasa yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ramadan di Indonesia
Di Indonesia, Ramadan selalu terasa hangat dan ramai. Menjelang sore, orang-orang mulai ngabuburit, menunggu waktu berbuka sambil berjalan santai atau berburu takjil di pinggir jalan. Aneka makanan manis tersaji di meja saat adzan Maghrib tiba: kue dadar gulung dengan aroma pandan, kue lapis berwarna-warni, bubur sumsum lembut dengan kuah gula merah, kolak pisang hangat, hingga sirup manis yang menyegarkan setelah seharian berpuasa.
Periode puasa di Indonesia biasanya berlangsung sekitar 13–14 jam, tergantung wilayah. Di Kota Medan, misalnya, durasi puasa kurang lebih 13 jam 25 menit. Namun lamanya waktu sering terasa singkat karena momen berbuka bukan sekadar makan, melainkan waktu berkumpul bersama keluarga, saling mendoakan, dan merayakan kebersamaan.
Ramadan di Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, durasi puasa bisa mencapai 14–16 jam, bahkan lebih panjang di beberapa wilayah saat musim panas. Komunitas Muslim sering mengadakan buka puasa bersama atau Ramadan potluck di masjid (mosque) maupun di kampus (campus), menjadikannya momen sosial yang inklusif dan penuh kebersamaan.
Saat waktu berbuka (iftar) tiba, menu yang tersaji sering kali mencerminkan budaya modern Amerika: pizza, burger, fried chicken, salad segar, hingga berbagai minuman soda seperti cola atau sparkling drinks. Di tengah suasana santai itu, istilah seperti pre-dawn meal / suhoor, breaking fast / iftar, dan fasting menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Ramadan di Tiongkok (China)
Di Tiongkok, terutama di wilayah dengan populasi Muslim seperti Xinjiang atau Ningxia, Ramadan tetap dijalankan dengan khidmat. Durasi puasa berkisar antara 14–16 jam, tergantung kota dan musim. Di Tiongkok azan dan iqamah tidak dikumandangkan secara luas, jamaah harus melihat jam yang ada untuk mengetahui waktu berbuka. Namun semangat berpuasa / 斋戒 (zhāijiè) tetap terasa kuat di sekitar masjid / 清真寺 (qīngzhēnsì), tempat keluarga dan komunitas berkumpul menjelang waktu berbuka / 开斋 (kāizhāi).
Saat berbuka, hidangan khas yang tersaji sering kali mencerminkan budaya lokal: sup daging sapi hangat seperti 牛肉汤 (niúròu tāng), mie tarik khas Lanzhou atau 兰州拉面 (Lánzhōu lāmiàn), daging kambing panggang / 烤羊肉 (kǎo yángròu), roti kukus 馒头 (mántou), kurma atau 枣 (zǎo), serta teh panas seperti 甜茶 (tiánchá). Beberapa keluarga juga menyajikan kue tradisional seperti 绿豆糕 (lǜdòu gāo). Dalam suasana itu, kata 分享 (fēnxiǎng) yang berarti “berbagi” terasa nyata, karena berbagi makanan dan waktu bersama adalah inti dari Ramadan itu sendiri.
Ramadan di Turki
Di Turki, Ramadan terasa sangat hidup, terutama di kota seperti Istanbul yang dipenuhi lampu dan dekorasi menjelang malam. Durasi puasa di sini bisa berlangsung sekitar 16–17 jam, tergantung musim. Menjelang sahur, suara penabuh drum tradisional berkeliling kota membangunkan warga untuk makan sebelum fajar, tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari budaya setempat.
Saat matahari terbenam dan waktu berbuka tiba, meja makan di rumah-rumah Turki dipenuhi hidangan khas yang menggugah selera. Sup lentil hangat yang dikenal sebagai Mercimek Çorbası menjadi pembuka yang populer, diikuti roti pide yang lembut, börek berlapis-lapis dengan isian gurih, serta daging panggang yang kaya rempah. Kurma tetap menjadi simbol awal berbuka, sebelum dilanjutkan dengan yogurt segar dan hidangan penutup manis seperti baklava yang legit berlapis kacang dan madu.
Belajar Bahasa Lewat Budaya
Bahasa bukan hanya tentang tata bahasa dan kosakata, tetapi juga tentang memahami budaya di baliknya. Dengan mengenal tradisi Ramadan di berbagai negara, kita tidak hanya belajar kata-kata baru seperti puasa / fasting / (斋戒 (zhāijiè) ataupun iftar / 开斋 (Kāizhāi), tetapi juga memahami konteks sosial dan nilai yang menyertainya.
Belajar bahasa melalui budaya membuat proses belajar:
Lebih bermakna
Lebih kontekstual
Lebih mudah diingat
Lebih menyenangkan
Ketika kita memahami cerita di balik sebuah kata, kita akan lebih mudah menggunakannya dalam percakapan nyata, baik dalam bahasa Inggris maupun Mandarin.
Tingkatkan Bahasa Lewat Budaya di OAKLEARN Center Medan
Sebagai Language School di Medan, OAKLEARN Center menghadirkan pembelajaran bahasa yang interaktif dan kontekstual. Kami percaya bahwa bahasa dan budaya tidak bisa dipisahkan. Melalui pendekatan yang komunikatif, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan nyata.
Ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan Mandarin dengan cara yang lebih menyenangkan dan relevan?
Join kelas di OAKLEARN Center sekarang dan mulai perjalanan belajarmu hari ini!