Di era yang serba cepat seperti sekarang, kemampuan bahasa terutama bahasa Inggris dan Mandarin menjadi skill penting bagi anak. Namun realitanya, banyak anak yang mengalami kecemasan bahasa (language anxiety): rasa takut, khawatir, atau tidak percaya diri saat harus berbicara dalam bahasa asing.
Fenomena ini semakin sering ditemukan pada anak usia sekolah hingga remaja, dan menjadi topik yang banyak dibicarakan para orang tua dan pendidik pada 2024–2025.
Pertanyaannya:
Mengapa anak-anak sekarang lebih mudah cemas saat belajar bahasa?
Dan apa yang bisa dilakukan orang tua dan guru untuk membantu mereka?
Apa Itu Kecemasan Bahasa?
Kecemasan bahasa adalah kondisi ketika seseorang merasa takut, gugup, atau stres ketika harus menggunakan bahasa asing.
Pada anak, ini bisa terlihat melalui:
Menolak berbicara karena takut salah
Hanya mau menjawab dengan suara pelan
Takut diejek atau malu sama teman
Diam total meskipun paham (passive understanding)
Menangis atau frustasi ketika diminta berbicara
Ini bukan kurang pintar, tapi reaksi emosional yang cukup umum pada anak zaman sekarang.
Mengapa Anak Zaman Sekarang Lebih Mudah Mengalami Language Anxiety?
1. Tekanan Sosial dari Lingkungan
Anak-anak sekarang tumbuh di era media sosial.
Mereka lebih sadar diri, lebih takut terlihat “salah”, dan lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain.
Banyak anak merasa:
“Kalau aku salah ngomong Inggris/Mandarin, nanti diketawain.”
Ketakutan ini membuat mereka memilih diam.
2. Ekspektasi yang Terlalu Tinggi
Orang tua ingin yang terbaik, tetapi sering tanpa sadar memberikan tekanan seperti:
“Kamu kan sudah les, masa masih salah?”
“Coba ulang lagi yang bagus!”
“Ayo cepat bisa!”
Anak akhirnya merasa bahasa itu beban, bukan kemampuan yang bisa bertumbuh.
3. Trauma Kecil dari Pengalaman Belajar Sebelumnya
Ada anak yang pernah dimarahi guru atau ditertawakan teman waktu salah mengucapkan kata.
Pengalaman kecil seperti itu bisa menempel bertahun-tahun.
4. Kurikulum Tradisional yang Terlalu Menekankan Grammar
Beberapa anak pernah belajar dengan metode yang terlalu akademik:
hafalan berlebihan,
tugas menulis banyak,
koreksi yang terlalu keras.
Ini membuat bahasa terasa menakutkan.
5. Kurangnya Kesempatan untuk Practice
Banyak anak hanya belajar teori, tapi jarang ngobrol.
Ketika diminta berbicara, mereka panik karena tidak terbiasa.
Dampak Language Anxiety pada Perkembangan Anak
Jika tidak ditangani, kecemasan bahasa bisa berdampak:
anak sulit berkembang dalam bahasa asing
takut mencoba hal baru
kehilangan kepercayaan diri
tidak berani tampil atau berinteraksi
performa sekolah menurun
tertutup terhadap peluang di masa depan
Karena itu, isu ini penting dan harus ditangani sejak dini.
Bagaimana Cara Mengurangi Language Anxiety pada Anak?
Oaklearn percaya bahwa anak akan berkembang ketika mereka merasa aman, diterima, dan tidak takut salah.
Ada beberapa pendekatan efektif:
1. Belajar Dengan Cara Fun, Bukan Tekanan
Anak lebih cepat menyerap bahasa ketika belajar melalui:
permainan
lagu
gerak tubuh
storytelling
dialog pendek
Fun learning menurunkan ketegangan.
2. Tidak Menertawakan Kesalahan
Di Oaklearn, kesalahan bukan aib, tapi tanda progres.
Anak didorong untuk mencoba, bukan harus sempurna.
3. Menggunakan Native-Friendly Approach
Guru menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, gesture jelas, dan tone lembut sehingga anak lebih berani berbicara.
4. Memberikan Pujian Kecil untuk Setiap Usaha
Bukan pujian berlebihan, tetapi:
“Good try!”
“Nice pronunciation!”
“You were brave today!”
Pujian sederhana meningkatkan kepercayaan diri.
5. Membiasakan Practice Tanpa Tekanan
Dalam kelas Oaklearn, anak melakukan:
roleplay
pair-talk
games conversation
mini challenges
Supaya speaking terasa natural dan tidak menegangkan.
Di Oaklearn, Bahasa Adalah Ruang Aman untuk Berkembang
Fokus kami bukan membuat anak langsung lancar, tetapi membuat mereka berani dulu.
Ketika anak berani, bahasa akan mengikuti.
Karena itu pembelajaran di Oaklearn selalu:
ramah anak
tidak menghakimi
interaktif
supportive
mengutamakan kepercayaan diri
Anak yang dulunya tidak mau bicara, kini bisa menyampaikan kalimat sederhana dengan senyum.
Dan itu adalah kemenangan yang nyata.
Kesimpulan: Anak Tidak Takut Bahasa Mereka Takut Dinilai
Kecemasan bahasa bukan tanda bahwa anak tidak mampu.
Ini tanda bahwa mereka butuh lingkungan belajar yang aman, hangat, dan mendukung.
Ketika anak merasa dihargai, bukan dibandingkan
ketika mereka diajak bermain, bukan dihakimi
ketika mereka dibimbing, bukan ditekan
di situlah kemampuan bahasa berkembang secara alami.
Dan Oaklearn ingin menjadi tempat itu bagi setiap anak.